Durian Runtuh Di Presidensi G20
Oleh: Dedi Kusnadi, Penyuluh Pajak
Ibarat mendapat durian runtuh, penunjukkan Indonesia
sebagai Presidensi G20 (Group of Twenty) tahun ini merupakan berkah
terbesar. Berbagai peluang terbuka lebar, mulai dari meningkatnya konsumsi
domestik sampai kesempatan terbukanya kran ekspor ke negara-negara anggota.
Asa akan bangkitnya perekonomian yang sempat lesu akibat
badai Covid-19, kembali terbit. Pemerintah pun mulai bebenah diri menyiapkan
gawe besar yang sangat krusial, karena mata dunia semuanya tertuju pada gelaran
ini.
Kepemimpinan Indonesia sejatinya telah ditetapkan saat
KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) G20 ke-15 di Riyadh, Arab Saudi pada 22
November 2020. Namun penyerahan palunya baru dilakukan saat KTT G20 ke-16 di
Roma, Italia pada 31 Oktober 2021 lalu.
Pembentukan dan Peran G20
Berawal dari krisis keuangan 1998
dan inisiatif forum G7 mengenai
kurang efektifnya pertemuan bila tidak melibatkan kekuatan ekonomi lain, maka
terbentuklah forum G20
pada 1999.
Anggotanya terdiri dari
11 negara maju dan 9 negara berkembang, yakni Afrika Selatan, Amerika
Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris,
Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis,
Tiongkok, Turki, dan Uni
Eropa.
Kelompok ini memiliki pengaruh yang besar dalam penentuan kebijakan
dunia karena menghimpun lebih
dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan internasional, dan 80
persen PDB (Pendapatan Domestik Bruto) dunia.
Secara resmi G20 bernama The
Group of Twenty (G20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau
Kelompok Duapuluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.
Awalnya
grup ini berupa pertemuan rutin antar Meteri Keuangan dan Gubernur Bank
Sentral, namun sejak 2008 forum ini menghadirkan Kepala Negara masing-masing. Mulai
2010, agenda pembahasan pun mulai berkembang, bukan hanya terkait permasalahan
keuangan tapi ke sektor pembangunan juga.
Sejak saat itu,
agenda pembahasan G20
terdiri dari
dua jalur, yakni Jalur
Keuangan (Finance Track)
dan Jalur Sherpa (Sherpa Track).
Penamaan Sherpa
diambil dari julukan untuk
pemandu di Nepal. Istilah tersebut
digunakan untuk menggambarkan bagaimana para Sherpa akan memandu kegiatan
membuka jalan menuju KTT.
Pada Jalur Keuangan, pertemuan akan dihadiri oleh Menteri
Keuangan dan Gubernur Bank Sentral, yang disebut Finance Ministers and
Central Bank Governors Meetings (FMCBG). Namun sebelum
pertemuan
tersebut, akan diawali dengan diskusi para
deputi
atau biasa disebut Finance and Central Bank Deputies
Meetings (FCBD)
Pertemuan Jalur
Sherpa lazimnya berbentuk
Kelompok Kerja (Working Groups), beranggotakan para ahli, dan khusus
menangani isu-isu spesifik yang terkait dengan agenda G20 yang lebih luas. Hasil pembahasannya akan dimasukkan
ke dalam segmen kementerian, dan akhirnya dibawa ke forum KTT.
Kelompok G20 tidak
memiliki staf tetap. Kursi ketua dijabat
para anggotanya secara bergilir.
Pemegang tampuk pimpinan biasa disebut Troika, yang beranggotakan tiga anggota yakni ketua
tahun berjalan, ketua tahun lalu, dan ketua tahun berikutnya. Sistem ini dipilih untuk menjamin
keberlangsungan kegiatan dan pengelolaan forum ini.
Forum ini telah memberikan sumbangsih pada dunia, antara
lain penanganan krisis (ekonomi Asia 1998, ekonomi global 2008, Pandemi
Covid-19), arsitektur keuangan internasional, dan perdagangan internasional (reformasi World Trade Organization/WTO).
Ada
juga masukan terkait
pengembangan infrastruktur (Global Infrastructure Hub), perpajakan
internasional (Automatic Exchange of Information/AEOI, Digital
Taxation), serta
penguatan bantuan bagi negara
miskin dan berkembang (Global
Partnership).
Presidensi
G20 Indonesia
Tahun ini pertama kalinya Indonesia ditunjuk sebagai
Ketua Forum G20 atau biasa disebut Presidensi G20. Masa kepemimpinan akan
berlangsung selama satu tahun, mulai 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022.
Indonesia mewakili
kelompok negara berkembang
dan satu-satunya
negara di Asia Tenggara
yang menjadi anggota G20.
Posisi ini sangat penting karena Indonesia akan menyuarakan pesan penting dari negara-negara
tersebut.
Dalam perhelatan Presidensi G20, Indonesia akan mengusung
tema ”Recover Together, Recover Stronger”.
Ungkapan ini bermakna bahwa Indonesia ingin mengajak
seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama, serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Gambaran tema ini
tercermin pada logo Presidensi G20, berupa wayang ‘Gunungan’ yang bermakna
babak baru dan keseimbangan (Recover), serta batik motif ‘Kawung’ yang
bermakna tekad bulat dan berguna bagi sesama (Stronger & Together).
Di bawah ‘Gunungan’
terdapat aksara yang bertuliskan ‘G20 Indonesia 2022’, bermakna bahwa Indonesia
adalah ‘Dalang” atau pelaku yang berperan aktif sebagai pimpinan pertemuan G20.
Untuk mengoptimalkan penyelenggaraannya, pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2021 tentang Panitia Nasional Penyelenggara Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022 yang dikeluarkan pada 27 Mei 2021.
Keputusan tersebut berisi penunjukan Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian dan Kementerian Luar Negeri yang akan bekerja pada pembahasan di Jalur Sherpa, sedangkan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia di Jalur Keuangan.
Sementara kementerian lainnya, seperti Kementerian Koordinator Bidang Politik,
Hukum dan Keamanan akan bekerja sebagai koordinator bidang dukungan penyelenggaraan acara, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika
sebagai koordinator bidang komunikasi dan media.
Peluang dan Tantangan
Agenda
Presidensi G20 telah dimulai dengan diselenggarakannya pertemuan Jalur Sherpa pada
7 – 8 Desember 2021 di Jakarta.
Kegiatan ini dihadiri 38
negara. Indonesia mengangkat tiga fokus utama, yakni penanganan pandemi, isu lingkungan, dan pencapaian Sustainable Development Goals
(SDGs).
SDGs merupakan rencana aksi global yang disepakati para
pemimpin dunia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan
melindungi lingkungan.
Pertemuan
pembuka ini sebagai pembuktian bahwa
Indonesia cukup berhasil menghadapi wabah Covid-19, sekaligus perwujudan bahwa
negera ini cukup piawai
menyelenggarakan pertemuan bertaraf internasional. Hal ini bisa
menumbuhkan simpati dan kepercayaan dunia internasional untuk berinvestasi di
negara ini.
Berikutnya dilaksanakan pertemuan
Jalur Keuangan pada 9 Desember 2021 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Acara dibuka dengan pertemuan
tingkat deputi Kementerian Keuangan dan Bank Sentral yang berlangsung selama
dua hari. Dihadiri oleh 20 delegasi anggota G20 dan beberapa lembaga internasional.
Secara keseluruhan, forum G20 rencananya akan diisi
paling sedikit 150 pertemuan dan acara sampingan (side event). Rangkaian
kegiatan tersebut diselenggarakan di beberapa kota dan kemungkinan akan dihadiri
500 sampai dengan 5.800 orang per pertemuan.
Dikutip dari laman setneg.go.id, manfaat langsung yang bisa dirasakan antara lain meningkatnya devisa negara, menggeliatnya kembali sektor pariwisata, peningkatan PDB Rp7,47 triliun, konsumsi domestik Rp1,7 triliun, dan penyerapan tenaga kerja hingga 33.000 orang di berbagai sektor.
Selain itu, pertemuan ini juga dapat dijadikan momentum bagi Indonesia untuk menampilkan keberhasilan reformasi struktural berupa dikeluarkannya Undang-Undang Cipta Kerja dan Lembaga Pengelola Investasi (Sovereign Wealth Fund/SWF). Serta mendorong optimalisasi inklusi keuangan (financial inclusion) pada pengembangan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk UMKM.
Kerjasama yang baik antara Indonesia dengan
negara-negara anggota G20, berpeluang membuka dan mempermudah jalur ekspor ke
negara-negara tersebut.
Disamping upaya mengoptimalkan manfaat dari kegiatan Presidensi
G20, perlu diwaspadai kemungkinan adanya ancaman dari kemunculan varian baru Covid-19,
serta gangguan keamanan dari dalam dan luar negeri.
Dari sisi pelaku usaha, disadari bahwa kemampuan UMKM
Indonesia untuk menghadapi pasar global masih terbatas. Oleh karenanya perlu
dukungan peningkatan keahlian, regulasi, pembiayaan, teknologi, mau pun jalur pemasaran
produknya.
Semoga durian runtuh tadi bisa dikelola dengan
sebaik-baiknya, untuk modal meningkatkan perekonomian serta memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa dan negara.
*) artikel ini telah terbit di pajak.go.id

0 Response to "Durian Runtuh Di Presidensi G20"
Posting Komentar